Home Restorative Policing Harapan Tinggi Warga Jatim kepada Irjen Pol Fadil Imran

Harapan Tinggi Warga Jatim kepada Irjen Pol Fadil Imran

Author

Date

Category

Surabaya | Antara – Kapolri Jenderal Idham Azis membuat gebrakan besar dengan menerbitkan Surat Telegram nomor ST/1378/KEP/V/2020 tanggal 1 Mei 2020 guna memutasi sejumlah Kapolda dan pejabat utama Mabes Polri.

Salah satu yang menarik perhatian masyarakat, yakni pergantian Kapolda Jawa Timur dari Inspektur Jenderal Polisi, Luki Hermawan kepada Inspektur Jenderal Polisi M. Fadil Imran. Fadil sebelumnya menjabat Staf Ahli Sosial Budaya Kapolri.

Kabiro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono menyatakan, mutasi perwira tinggi itu bagian dari tour of duty bagi anggota polisi.

M. Fadil Imran kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 14 Agustus 1968. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1991.

Fadil sarat pengalaman bidang reserse dan kriminal. Dia mengawali karir cemerlang sebagai Kasat III Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Tak lama berselang, Fadil pegang tongkat komando sebagai Kapolres KP3 Tanjung Priok, Jakarta Utara pada 2008.

Lantas, dia dipindah kembali ke Polda Metro Jaya sebagai Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum, Polda Metro Jaya pada 2009.

Beberapa kasus fenomenal dan menarik perhatian masyarakat diungkap Fadil dan tim, yakni kasus pembunuhan disertai mutilasi, yakni tersangka Baekuni alias Babe. Yang memutilasi sejumlah anak kecil di Jakarta Timur.

Juga, pembunuhan Atikah oleh pelaku Zaki di salah satu hotel di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kemudian, kasus mutilasi yang dilakukan penyuka sesama jenis lelaki, Ryan Jombang (karena asal Jombang, Jawa Timur).

Juga dua kasus mutilasi yang dilakukan perempuan, yakni pelaku Muryani di Jakarta Timur dan Sri di Tengarang Banten.

Selepas dari Polda Metro Jaya, ayah dari Wulan Purnamasari dan Farah Putri Nahlia itu dipercaya jadi Kasubdit IV Dittipidum Bareskrim Polri (2011).

Lantas, Fadil mengemban Direktur Reserse Kriminal Umum, Polda Kepulauan Riau (2011) kemudian kembali lagi ke Polda Metro Jaya sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat (2013).

Fadil kemudian ditarik sebagai Analisa Kebijakan (Anjak) Madya Bidang Pidum, Bareskrim Mabes Polri (2015). Kemudian jadi Direktur Reserse Kriminal Khusus, Polda Metro Jaya (2016).

Kemudian, Fadil mendapat amanah sebagai Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus, Bareskrim Mabes Polri (2016). Terakhir, jadi Staf Ahli Kapolri bidang Sosial Budaya (2019).

Kemudian, Fadil dipercaya jadi Kapolda Jawa Timur menggantikan Irjen Luki Hermawan yang menempati jabatan baru Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni ketika dikonfirmasi wartawan tentang Fadil, mengatakan, Fadil kerap mengungkap kasus besar, dan punya rekam jejak yang baik.

“Saya yakin, beliau menjalankan tugas dengan baik dan menjaga amanah yang diberikan,” katanya.

Sedangkan, Anggota Komisi V DPR RI dari FPKB, Syafiudin Asmoro optimistis, Fadil mampu menjadi Jawa Timur lebih kondusif.

Menurut Ahmad Sahroni, Fadil mengantongi banyak pengalaman, prestasi kepolisian baik, prestasi akademik bidang kriminal juga baik.

“Fadil sosok yang tepat jadi Kapolda Jatim,” katanya.

Juga, diperkirakan bahwa Fadil akan cepat beradaptasi dengan para tokoh masyarakat sebagai penyambung dengan masyarakat Jatim.

REKAM JEJAK FADIL IMRAN

Fadil sebagai polisi yang berpengalaman di bidang tindak kejahatan, lebih banyak bertugas di bidang reserse dan kriminal, serta menghasilkan prestasi cemerlang.

Pada 2007 Fadil dan tim menyelamatkan anak inisial EP yang diculik sopir taksi dan minta tebusan Rp 50 juta. Ketika itu Fadil jadi Kasat III Jatantras Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Ketika dia menjabat Direktur Ditreskrimsus, Polda Metro Jaya, membongkar peredaran obat kadaluarsa dengan perederan senilai miliaran rupiah. Juga, mengungkap pembajakan film “Warkop Reborn: Jangkrik Bos I’ 2016.

Fadil juga memimpin pengungkapan kasus impor tekstil ilegal sebanyak 2.216 bal pakaian bekas dari Jepang, diselundupkan ke Riau melalui Malaysia.

Juga, membongkar prostitusi berlabel model dan SPG (Sales Promotion Girl) melalui online yang dilakukan inisial AN.

Saat dia jadi Direktur Tinda Pidana Tertentu, Bareskrim Polri, Fadil perkirakan 325 orang tersangka dan 85 perusahaan terkait kasus kebakaran hutan seluas 7.264 hektar.

Perkara besar lain yang diungkap Fadil adalah: Penyebaran isu provokatif melalui WhatsApp (WA) nama “The Family Muslim Cyber Army” (MCA).

Di bidang akademik, Fadil peraih gelar Doktor Kriminologi dari Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude.

Di bawah bimbingan Pakar Kriminologi, DR Adrianus Meliala, Fadil mempertahankan sidang disertasi berjudul: “Mutilasi dalam Perspektif Kriminologi: Tinjauan Teoritis Lima Kasus Mutilasi di Jakarta.” (*)

Recent posts