Home Whitecollar Crime Masak Sayur, Bisa Sambil Hina Pejabat (1)

Masak Sayur, Bisa Sambil Hina Pejabat (1)

Author

Date

Category

Orang Bogor, menghina Walikota Surabaya, demi membela Gubernur Jakarta. Ada Jakarta – Surabaya – Bogor. Segi tiga. Si penghina kini disidik Polda Jawa Timur.

Jika mengacu locus delicti (tempat terjadi tindak pidana) mestinya di Bogor. Bukan Polda Jatim. Tapi, locus delicti sudah tidak disoal dalam kasus pelanggaran UU ITE.

Bahkan, jauh sebelum maraknya ujaran kebencian di Indonesia (yang diawali jelang Pilkada DKI 2014) di negara-negara Barat, hate speech mengabaikan locus delicti.

Batas wilayah tidak berlaku bagi pelaku kejahatan cyberspace (Gaines and Miller, 2011).

Jadi, ibu rumah tangga di Bogor penghina Walikota Surabaya, boleh disidik di Polda Jatim.

Naskah ini tidak mengulas kasus penghinaan Walikota Surabaya. Tidak. Biarlah itu berproses hukum. Kasus penghinaan Walikota Surabaya melalui Facebook itu, hanya contoh terbaru ujaran kebencian.

Betapa, ibu rumah tangga, sambil menggendong anak, atau sambil memasak sayur, memposting menghina Walikota Surabaya.

Begitu gampang. Begitu entengnya. Seolah penghinaan itu hanya main-main. Sekadar gurauan.

Mengapa begitu enteng dan beraninya ibu rumah tangga itu?

Newman and Clarke (2003) merumuskan: Kejahatan siber merupakan computing environment. Lingkungan yang punya karakteristik khusus. Cirinya ada lima:

Pertama, stealth. Bagai siluman. Pelaku gampang menyelubungi identitasnya. Dengan identitas palsu. Atau menyamarkan diri.

Kedua, challenge. Lingkungan memunculkan budaya, yang memotivasi pelaku untuk menyiasati. Mengalahkan keamanan sistem informasi, tanpa terdeteksi. Kalau dia lolos, maka bangga.

Ketiga, reconnaissance. Pelaku bebas memilih korban. Memanfaatkan software. Atau jadi anggota komunitas online. Atau merasa sepaham-sealiran dengan komunitas tertentu.

Keempat, escape. Pelaku gampang kabur. Dengan cara menghapus jejak siber, jika dia merasa takut. Sebab, postingan dia rasa membahayakan dirinya.

Kelima, multipliable. Pelaku bisa mengotomatisasi. Melakukan beberapa kejahatan siber dalam satu satuan waktu.

Ada satu tambahan lagi.

Newman (2009) menambahkan: Networking. Suatu karakteristik, memungkinkan pelaku berkoordinasi (bekerjasama) dalam kelompok. Demi efektivitas kejahatannya.

Terbukti, dalam kasus ‘penghinaan Walikota Surabaya’, pelaku menghapus postingan. Ketika postingan jadi viral. Pelaku jadi takut.

Saking takutnya, dia menutup akun Facebook-nya. Escape, bagai siluman.

Takut tapi bangga. Bisa menghina Walikota Surabaya. Disoraki netizen sebagai hero. Dari bukan siapa-siapa. Jadi ‘siapa-siapa’. Challenge. Newman and Clarke (2003).

Hebatnya, polisi bisa menangkap dia. Berkat kecanggihan alat, tentunya. Juga tenaga ahli siber Polri.

Pelaku digiring ke Mapolda Jatim. Pakai seragam tahanan.

Meledak-lah tangisnya. Sembah-sungkem, mohon ampunan Ibu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya. Yang sudah dia hina.

Menonton drama ini, publik jadi gamang. Ambigu. Mendua. Di persimpangan jalan.

“Kasihan,” pikir sebagian orang. Masak, cuma posting Facebook sampai ditahan? Sekarang ‘kan era demokratis. Semua bebas mengemukakan pendapat. Dijamin undang-undang.

Sebaliknya, mayoritas warga Surabaya geram pada pelaku.

Yang terjadi kemudian ‘kuat-kuatan’. Terbaca di medsos. Seandainya lebih kuat yang “kasihan”, maka jadi tekanan terhadap proses penyidikan. Tekanan publik.

Tekanan itulah (sedikit – banyak) mempengaruhi proses hukum.

Tekanan tembus ke korban. Membuat korban memaafkan. Diumumkan ke publik. Padahal stafnya (Humas Pemkot Surabaya) yang mempolisikan, selain Ormas di Surabaya.

Waldron (2012) mengatakan: Publikasi yang mengekspresikan ketidak-hormatan, kebencian, fitnah terhadap individu, mengakibatkan:

  1. Perlukaan fisik, sampai kematian.
  2. Perlukaan psikologis dan emosional.
  3. Perlukaan seksualitas.
  4. Kerugian finansial.
  5. Ditiru orang lain, sehingga kacau.

Bayangkan, seandainya itu ditiru. Meluas. Dengan hati bangga. Ibu-ibu menanak nasi, sambil mengetik sedikit kata di Facebook. Menghina pejabat publik.

Satu kata: Kacau. Lantas, bagaimana solusinya? (bersambung)

Recent posts