Home Restorative Policing Merawat Rasa Aman Warga DKI

Merawat Rasa Aman Warga DKI

Author

Date

Category

Kepercayaan masyarakat kepada polisi tergantung dari sejauhmana polisi mampu menciptakan dan merawat rasa aman masyarakat. Rasa aman tumbuh bila tidak terjadi kejahatan. Untuk meningkatkan kepercayaan warga DKI pada polisi, tak ada pilihan lain bagi Polda Metro Jaya selain meningkatkan upaya pencegahan kejahatan berbasis komunitas.

————————————-

Mengapa Polda Metro Jaya memilih pencegahan kejahatan dengan basis komunitas? Karena selain bisa mengatasi keterbatasan personil polisi, banyak biaya termasuk biaya sosial bisa dihemat, sementara di sisi lain, hasil yang dicapai bisa lebih maksimal.

Pencegahan kejahatan berbasis komunitas juga mampu menumbuhkan kesadaran warga DKI yang majemuk akan lingkungannnya. Polisi bisa membaur, melebur, mengurangi bahkan meniadakan “jarak” dengan masyarakat. Polisi menjadi bagian dari masyarakat. Sebaliknya, masyarakat lewat kegiatan pemolisian masyarakat (Polmas) semakin memiliki kemampuan dan percaya diri merawat keamanan lingkungan mereka.

Bagaimana membangun sistem pencegahan kejahatan berbasis komunitas? Saya selalu mengawali langkah ini dengan menetapkan satu lokasi tertentu sebagai subyek binaan, atau proyek percontohan. Setelah lokasi ditetapkan, kami menetapkan target, merancang upaya mencapai target lewat rancangan sistem yang sesuai, lalu menyiapkan semua perangkat, dan alat yang dibutuhkan — termasuk menyiapkan tenaga terampil, serta menyiapkan kerjasama dengan instansi lain. Semua kegiatan berlandaskan teori ilmu ilmu sosial terkait.

Salah satu contoh di antaranya adalah ketika kami mengubah “kampung narkoba”, di lingkungan RW 7, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Cengkareng, Jakarta Barat (Jakbar), tahun 2014. Kala itu saya masih menjadi Kapolres Jakbar, sementara Saudara Gembong Yudha yang kala itu masih berpangkat Ajun Komisaris Besar, menjadi Kasat Narkoba.

Setelah kami melakukan tindakan represif dengan menggerebek beberapa rumah madat terbesar di sana, Sabtu (16/3/2013), kami melakukan tindakan preemtif dengan membuka komunikasi dialogis dengan seluruh pemangku kepentingan, terutama warga RW 7.

Di pertengahan Agustus 2014, selama sepekan, kami mulai menyapa, mendata warga lewat door to door system. Satu demi satu pintu warga, kami ketuk.

Warga menyambut dingin langkah awal kami. Tetapi kami tidak menyerah sampai akhirnya kami menemukan pola  berkomunikasi yang tepat.

Salah satu hasilnya, Perayaan Kemerdekaan RI yang meriah, kami gelar semarak. Untuk pertamakalinya, perayaan melibatkan hampir seluruh warga. Perayaan tersebut kemudian kami jadikan pintu masuk program kami, “RW bebas Narkoba”.

Selanjutnya, kami melakukan tindakan preventif besama instansi terkait untuk memulihkan perekonomian warga. Bekerjasama dengan pemerintah provinsi, dan pemerintah kota, para pemuka masyarakat, donatur, serta Badan Narkotika Nasional (BNN), kami melakukan pelatihan pelatihan usaha kecil.

Sementara itu, setahap demi setahap, warga tergerak membebaskan lingkungannya dari bahaya Narkoba. Para pecandu tak takut lagi berkunjung dan berobat ke poliklinik BNN, di sana.

Palang portal keluar masuk ber-CCTV (close circuit television) yang awalnya berfungsi sebagai peringatan dini bagi para bandar Narkoba bila kedatangan aparat, kini kami ubah fungsinya sebagai bagian dari sistem keamanan lingkungan di sana.

Memerkenalkan Teknologi Informasi

Di akhir 2014, kami memadukan penerapan teknologi informasi dalam mencegah kejahatan berbasis komunitas. Saya cermati, penerapan teknologi informasi membuat upaya mencegah dan membongkar kejahatan menjadi lebih ringkas, cepat, dan membutuhkan lebih sedikit tenaga.

Dengan asumsi tersebut, kami memilih Kompleks Perumahan Casagoya Residence, Kebon Jeruk, Jakbar, sebagai proyek percontohan. Mayoritas penghuni kompleks ini berasal dari kelas menengah ke atas, terdidik. Oleh karena itu mereka tidak asing lagi dengan teknologi informasi.

Pemukiman dilengkapi dengan sejumlah CCTV, dan layar monitor pengawas di pos jaga. Ketika kami mengawali program Sigahtan (sistem pencegahan kejahatan) di sana, mereka cepat menanggapinya dengan membuat whatsapp (WA) group yang menghubungkan sesama penghuni, pengelola, dan anggota satuan pengaman (Satpam) di pos jaga. Upaya pencegahan kejahatan berbasis komunitas lewat WA group, cepat terbangun.

Meski demikian, dengan pola pencegahan kejahatan yang sudah rapat, dan modern, masih terjadi perampokan pada Rabu (19/11/2014). Pelakunya, “orang dalam”. Pengalaman ini menunjukkan, berbagai upaya pencegahan kejahatan secanggih, dan seketat apapun, bakal gagal oleh aksi “orang dalam”.  Sebab, hanya “orang dalam” lah yang mengetahui sistem dan pola-nya. Dengan kata lain, telah terjadi “pembusukan dari dalam”.  

Untuk mencegah hal tersebut terulang, Satpam, pengelola, maupun para penghuni, harus mematuhi sistem pemeriksaan, pengawasan, termasuk pembatasan pembatasan serta konfirmasi ulang pada setiap individu yang berada di area kompleks.

Sigahtan

Peristiwa ini menjadi modal kami memerluas Sigahtan di seluruh wilayah hukum Polres Jakbar. Pemanfaatan teknologi informasi kami kembangkan. Lewat aplikasi Sigahtan, warga Jakbar bisa memberi tahu, atau memanggil polisi, terkait peristiwa kejahatan atau bencana yang akan, sedang, atau telah terjadi. Kekhawatiran warga bakal menemui kesulitan di kantor polisi, bisa dihindari. Lewat sistem aplikasi yang bisa diunduh lewat sistem android ini, polisi lah yang datang menemui warga.

Sistemnya adalah Ponsel (telepon selular) ke Ponsel. Kita tidak tergantung operator. Konsepnya hampir sama dengan Go-Jek. Polisi terdekat yang merespons.

Dalam program ini, polisi bekerjasama dengan 12 lembaga antara lain dinas pemadam kebakaran, PLN, ambulans, Satpol PP, dan TNI. Polisi bisa meminta bantuan ke ke-12 lembaga tersebut bila dibutuhkan.

Dengan Sigahtan, pelayanan polisi pada masyarakat bisa lebih cepat, koordinasi polisi dengan warga, dan instansi terkait bisa lebih mudah terbangun.

Kampung Tangguh

Saat terjadi pandemik Covid-19, saya duduk sebagai kepala kepolisian daerah Jawa Timur (Kapolda Jatim). Menghadapi hal ini, saya kembali menerapkan prinsip prinsip kerja saya, memberdayakan masyarakat lewat kepolmasan.

Kegiatan kepolmasan berbasis komunitas tidak lagi sebatas mencegah dan mengatasi kejahatan, tetapi meliputi dua aspek lain, aspek menjaga kesehatan dengan memutus matarantai Covid-19, dan aspek ketahanan ekonomi menghadapi kerusakan roda ekonomi nasional. Ketiga aspek menentukan sejauh mana rasa aman warga Jatim.

Setelah melalui riset lapangan, Polda Jatim membuat program Kampung Tangguh Semeru. Mengenai kampung tangguh ini, pembaca bisa membaca artikel di sini di bawah judul, “Polda Jatim Meneguhkan Kampung Tangguh”., dan artikel, “Tak Secepat Menyajikan Mi Instan”.

Kini, setelah saya duduk sebagai Kapolda Metro Jaya, saya dan jajaran,  bersama TNI, Pemerintah Provinsi DKI, serta instansi terkait lainnya, melanjutkan program kampung tangguh di Jatim, bernama Kampung Tangguh Jaya.

Program Kampung Tangguh Jaya merupakan paduan program Sigahtan, dan Kampung Tangguh Semeru. Prinsip dasarnya sama, memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, membangun kepolmasan, merawat rasa aman warga DKI dengan menegakkan aturan main, tanpa pandang bulu.

jika pdf tidak tampil silahkan klik disini

Recent posts

Avast Vs MalwareBytes Antivirus Protection

This article is a quick comparison between Avast and MalwareBytes. Both deliver great anti virus protection, wiping out nearly 99%...

Email Marketing Jobs — Are You Ready With regards to the Challenge?

What is Email Marketing? Email Marketing requires sending away a commercial sales message to an ever-increasing number of targeted audience, usually looking to...

Illinois On-line Casinos & On-line Playing Legislation In 2021

In addition, Las Atlantis provides a handful of tables for blackjack, roulette, craps, and poker. Sure it’s plenty of work pulling all of it together, deposit 10 euros play 50 euros on line casino on the poker table.