Home Headline Narkoba di Kampung Ambon, Kagak Ade Matinye?

Narkoba di Kampung Ambon, Kagak Ade Matinye?

Author

Date

Category

“Narkoba di Kampung Ambon kagak ade matinye,” kata orang Betawi. Ditafsirkan, perdagangan narkoba di Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat, tak tersentuh hukum.

Tapi, itu dulu. Lima – sepuluh tahun lalu.

Ketika di situ ada sekitar 30 bandar narkoba. Sembunyi di rumah-rumah warga. Para pembeli narkoba bisa mengkonsumsi narkoba di rumah-rumah itu.

Pedagangnya adalah warga setempat. Pembelinya para pecandu narkoba dari seluruh Indonesia. Perputaran uang di wilayah itu (dari narkoba) total sekitar Rp 1 miliar per hari.

Polisi tidak diam. Operasi penggerebekan rutin dilakukan. Tapi, hasilnya (waktu itu) mayoritas nihil. Selalu gagal.

Sebab, selalu ada polisi korup. Polisi pemberi info kepada para bandar narkoba, pada beberapa jam sebelum operasi penggerebekan dilaksanakan.

Akibatnya, ketika polisi tiba di lokasi penggerebekan, semuanya kelihatan normal. Tidak ada narkoba. Tidak ada pengguna. Tidak ada pelanggaran hukum. Operasi polisi gagal.

Maklum saja. Perputaran uang sekitar Rp 30 miliar per bulan. Para bandar gampang saja menyogok polisi. Demi kelancaran bisnis.

Sebaliknya, bagi polisi hal itu menggiurkan. Uang sogok selalu menggiurkan. Bagi siapa pun. Profesi apa pun.

Akibatnya, Kampung Ambon jadi virus bagi Polri. Virus yang sulit ditumpas.

Kemudian, pelan tapi pasti. Sarang bandar narkoba dikikis polisi. Pelan-pelan. Dengan menggunakan metoda khusus. Bukan cara seperti biasa. Melainkan cara khusus.

Hasilnya tidak tampak dalam waktu singkat. Tidak serta-merta. Perubahan bertahap. Sedikit demi sedikit. Tapi pasti.

Sekarang di Kampung Ambon relatif bersih bandar narkoba. Belum bersih total. Sesekali masih ada bandar narkoba atau pecandu yang ditangkap polisi di situ. Tapi, Kampung Ambon sudah tidak seperti dulu lagi.

Bahkan sepanjang 2020, sampai tulisan ini diturunkan, belum ada penangkapan besar di sana.

Istilah: “… Kampung Ambon kagak ade matinye…” sudah jadi kenangan masa lalu. Tidak relevan lagi sekarang. Istilah tersebut sudah tamat.

Bagaimana caranya Polri bisa sukses? Gerakan apa yang dilakukan polisi? Apakah bandar narkoba di Kampung Ambon sudah bosan?

Pemetaan Permasalahan

Kampung Ambon berada di Kelurahan Kedaung Kali Angke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Disebut juga sebagai Kampug Permata.

Berdasarkan jurnal Departemen Kriminologi, Universitas Indonesia, kawasan ini mulai dibanjiri penduduk pada dekade 1960-an.

Asalnya, mereka tinggal di perkampungan Ambon di Kwitang, Jakarta Pusat. Pada 1960-an mereka dipindahkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin ke lokasi mereka sekarang.

Peredaran narkoba di kawasan ini mulai ada sejak akhir dekade 1980-an. Awalnya ada satu-dua orang pengguna narkoba.

Dari pengguna narkoba, kemudian naik jadi kurir narkoba. Lama-lama jadi pedagang narkoba. Dimulai oleh satu – dua pedagang narkoba.

Penghasilan pedagang narkoba sangat besar. Itu membuat tetangga-tetangga iri. Dalam perjalanan waktu, jumlah pedagang narkoba di situ semakin banyak. Sehingga menjadi ladang pencari nafkah.

Akhirnya, para pedagang narkoba membentuk relasi sosial yang kuat dengan warga yang bukan pedagang narkoba.

Artinya, mereka saling bantu. Pedagang narkoba yang punya banyak uang membantu (menyumbang uang secara langsung dan tidak langsung) kepada warga bukan pedagang narkoba.

Akibatnya, seluruh warga cenderung melindungi pedagang narkoba dari incaran polisi.

Relasi sosial di sana jadi semakin kuat. Solid. Polisi semakin kerepotan dengan munculnya polisi korup, seperti disebutkan di atas.

Maka, penindakan yang dilakukan polisi memberantas perdagangan narkoba di sana, tidak efektif. Karena tidak mendapat dukungan warga setempat.

Pada 23 Mei 2009, 200 aparat gabungan dikerahkan untuk merazia judi dan narkoba di Kampung Ambon. Itu suatu operasi kepolisian secara besar-besaran, dari segi jumlah aparat yang dikerahkan.

Ternyata, aparat hanya menyita barang bukti yang sangat sederhana.

Yakni: sepeda motor, mobil, dan kartu remi. Tidak ada barang bukti narkoba atau yang terkait narkoba.

Itulah pendekatan paramiliteristic policing. Model pemolisian seperti ini tidak efektif memberantas narkoba di Kampung Ambon (Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 7 No.I Mei 2010).

Model Pemolisian Restoratif

Tidak banyak yang tahu, bahwa keberhasilan Polri menumpas bandar narkoba di situ, adalah tiga hal sebagai berikut:

1. Diawali pada 2014

2. Pemolisian restoratif

3. Represif

Itulah tonggak sejarah penting di Kampung Ambon. Tiga hal di atas yang mengubah kondisi kriminalitas narkoba di sana.

Uraiannya sebagai berikut:

Adalah teori dari Clamp and Paterson (2017) mengembangkan model pemolisian mengacu pada aspek:

A. Goals

B. Approach

C. Process

D. Police roles

E. Public involvement

Semua hal di atas, jika diringkas menghasilkan dua kata: Pemolisian restoratif.

Clamp and Paterson (2017) menjelaskan model pemolisian restoratif, demikian:

Bahwa polisi tidak harus selalu bertindak represif dalam menangani suatu perkara. Tidak selalu berbentuk pengintaian, penggerebekan, penangkapan, penahanan. Tidak selalu begitu.

Walaupun represif adalah bagian dari pekerjaan polisi.

Model itu diterapkan di pemberantasan narkoba di Kampung Ambon. Rinciannya sebagai berikut:

A. Tujuan.

Kampung Ambon harus bersih dari narkoba. Bukan sebagai arena perang, antara polisi melawan bandar narkoba.

B. Pendekatan.

Para bandar narkoba harus didekati polisi secara manusiawi. Dari pendekatan itu diketahui, bahwa mereka mencari nafkah dari perdagangan narkoba.

C. Proses.

Polisi tidak secara langsung mendekati para bandar narkoba. Melainkan melalui proses. Yakni, mendekati semua warga wilayah Kampung Ambon. Baik pedagang narkoba atau bukan.

D. Aturan polisi.

Semua langkah polisi harus sesuai Standard Operation Procedure (SOP) kepolisian.

E. Keterlibatan publik.

Ini masih terkait dengan poin C (proses). Yakni, polisi harus mendekati seluruh warga Kampung Ambon. Melibatkan mereka pada suatu kegiatan positif.

Poin E ini sangat penting. Tindakan polisi memberantas perdagangan narkoba di Kampung Ambon, harus mendapat dukungan warga setempat. Cukup dengan dukungan moral.

Tindakan Polisi

Pada 2014 Polres Metro Jakarta Barat melakukan tindakan yang berbeda dibanding biasanya terhadap warga Kampung Ambon.

Polisi melakukan pendekatan positif kepada warga. Polisi mendatangi warga dari rumah ke rumah. Polisi berceramah tentang bahaya mengkonsumsi narkotika.

Respon warga di sana biasa-biasa saja. Cenderung dingin. Cenderung datar.

Mungkin saja dalam hati mereka menolak ceramah tersebut. Tapi, mereka tidak mengekspresikan ketidak-sukaan secara reaktif. Karena mereka takut pada polisi.

Sebaliknya, polisi merasakan ekspresi ketidak-sukaan warga terhadap ceramah bahaya narkotika. Tapi, polisi terus saja melakukan ceramah. Door to door.

Polisi berharap, suatu tindakan yang konstan pasti bakal menghasilkan suatu perubahan sosial. Sehingga, ceramah terus dilakukan. Tidak kenal lelah. Rutin.

Kegiatan polisi di sana kemudian berkembang. Selain ceramah, juga diselenggarakan aneka acara. Tidak terkait narkotika.

Ada kegiatan olahraga, juga polisi wanita mengadakan kursus memasak buat ibu-ibu dan remaja wanita. Dan, lomba memasak.

Sampai di sini, tampak bahwa polisi mendekati ibu-ibu. Polisi paham, bahwa ibu-ibu faktor penting dalam keluarga. Intinya: Ibu-ibu adalah agen utama menuju perubahan.

Lama-lama aneka kegiatan polisi mendapatkan simpati warga. Disambut gembira oleh warga. Para pimpinan wilayah (Ketua RT dan RW) menyambut gembira pendekatan polisi itu.

Dari situlah terungkap, bahwa sebenarnya ibu-ibu, juga para pimpinan wilayah, tidak suka ada perdagangan narkoba di wilayah mereka. Ibu-ibu khawatir, anggota keluarga mereka bisa kena musibah jika diburu polisi karena narkoba.

Masyarakat Kampung Ambon senang, bahwa perdagangan narkoba menghasilkan uang sangat banyak. Total perputaran uang sekitar Rp 1 miliar per hari di situ.

Di sisi lain, ibu-ibu juga takut anggota keluarga mereka diburu polisi. Bisa saja ditembak polisi jika melanggar hukum dan melawan petugas. Hasil finansial besar, tapi punya risiko sangat tinggi.

Ibu-ibu pastinya berharap keluarga mereka hidup aman dan nyaman. Berarti tidak melanggar hukum dengan berdagang narkoba.

Kursus memasak yang diberikan secara gratis oleh polisi wanita, bisa menjadi alternatif jalan keluar masalah bagi warga Kampung Ambon.

Mereka bisa berdagang makanan. Mereka bisa berbisnis kuliner.

Satu langkah penting dari polisi. Bahwa polisi memberikan alternatif mencari nafkah bagi warga Kampung Ambon, selain berdagang narkoba. Yakni berbisnis kuliner. Tidak melanggar hukum. Dan, aman.

Inilah kunci sukses Polres Metro Jakarta Barat dalam memberantas perdagangan narkoba di sana pada saat itu. Dan, itulah pemolisian restoratif.

Tahapannya sebagai berikut: Goals, Approach, Process, Police roles, Public involvement. Clamp and Paterson (2017).

Perjalanan selanjutnya, pelan tapi pasti, jumlah bandar narkoba di sana berkurang. Jumlahnya terus berkurang. Sebaliknya, muncul bisnis kuliner.

Badan Narkotika Nasional (BNN) mengapresiasi tindakan Polres Metro Jakarta Barat. Pendekatan yang dilakukan aparat Polres Metro Jakarta Barat adalah sesuatu yang baru (untuk ukuran saat itu di Indonesia).

Yang paling utama adalah hasil akhirnya: Peredaran narkoba di Kampung Ambon menurun drastis.

Pihak BNN kemudian memberikan penghargaan kepada pihak Polres Metro Jakarta Barat.

Tahap selanjutnya BNN aktif membantu program-program Polres Metro Jakarta Barat dalam memberantas narkoba di Kampung Ambon.

Represif Ibarat Ujung Anak Panah

Apakah dengan pemolisian restoratif Polres Metro Jakarta Barat itu Kampung Ambon bersih dari narkoba? Jawabnya: Belum.

Kampung Ambon belum bersih total dari narkoba. Belum habis sama sekali. Tapi terjadi penurunan kasus narkoba yang signifikan.

Pada 2018 dan 2019 tetap terjadi penggerebekan narkoba oleh polisi di sana. Penggerebekan atau tindakan represif, tetap dilakukan polisi.

Bahkan, pada 22 Agustus 2019 seorang pria bandar narkoba dari Kampung Ambon ditembak mati polisi.

Sebab, ketika dia akan ditangkap polisi, dia melawan. Dia mengeluarkan senjata api, air soft gun.

Sebelum si bandar narkoba meletuskan pistolnya ke arah polisi, polisi mendahului dengan tindakan tegas. Tembakan polisi mengenai dada si bandar narkoba. Sehingga dia tewas di tempat.

Berikut ini videonya:

Tindakan represif merupakan perangkat penting dalam mekanisme kerja polisi.

Tanpa represif, polisi tidak mungkin bisa mengendalikan kriminalitas. Tanpa represif, polisi tidak mungkin bisa menjamin keamanan warga negara dari ancaman kejahatan.

Tapi, respresif bukan satu-satunya metoda bagi polisi.

Represif ibarat ujung sebuah anak panah. Sedangkan, ujung anak panah bukanlah panah.

Sebuah panah terdiri dari: Busur, tangkai anak panah, dan ujung anak panah.

Kampung Ambon tidak mungkin bersih total dari narkoba. Tidak mungkin. Sebagaimana dunia ini tidak mungkin bersih total dari tindakan kriminal.

Represif bakal menghasilkan efek jera. Restoratif bakal menghasilkan penyadaran baru bagi masyarakat.

Represif itu shock therapy. Restoratif adalah menyadarkan orang agar tidak berbuat jahat.

Tapi, pilihan adalah hak individu. Apakah memilih jadi penjahat atau bukan. Dengan segala hasil dan risikonya. (*)

Recent posts