Home Restorative Policing Polda Jatim Meneguhkan Kampung Tangguh

Polda Jatim Meneguhkan Kampung Tangguh

Author

Date

Category

Menjelang pertengahan April 2020, Jawa Timur (Jatim) menjadi episentrum baru Covid-19, melampaui DKI Jakarta. Ada 119 penambahan kasus positif di Jatim sehingga total kasusnya menjadi 386 kasus positif. Sementara, DKI Jakarta cuma 96 kasus baru.

Berdasarkan peringkat, lima wilayah zona merah di sana menurut Gubernur Khofifah Indar Parawansa adalah:

Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Magetan, Kabupaten Malang.

Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, Kapolda Jatim, Inspektur Jenderal Fadil Imran bersama TNI, pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya, membangun jaringan Kampung Tangguh Semeru.

Lewat Kampung Tangguh, Fadil mendorong para Kapolres jajarannya, membuat bermacam inovasi.

Salah satunya adalah aplikasi yang mampu memantau pergerakan pasien Covid-19. Aplikasi menarik ini dibuat Polres Bondowoso. Namanya SMART. Kependekan slogan sehat, mandiri, aman, rukun, dan tangguh.

“Dalam aplikasi ini juga terdapat fitur bernama ‘Peta Sebaran’. Seluruh pergerakan penderita Covid – 19 bisa termonitor real time,” ungkap Kapolres Bondowoso, Ajun Komisaris Besar Erick Frendriz, saat meluncurkan aplikasi tersebut di Desa Cindogo, Kecamatan Tapen.

Pasien yang dipantau adalah mereka yang berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG), Orang dalam Pantauan (DP), Pasien dalam Pengawasan (PDP), hingga pasien positif Corona.

“Kami meminta seluruh warga mengunduh dan menginstal aplikasi tersebut di playstore. Selanjutnya pengunduh akan mendapatkan username, dan password dari petugas Dinas Kesehatan. Fitur kemudian bisa digunakan,” tutur Erick.

Jika nanti ada pasien yang keluar dari lokasi karantina lebih dari 100 meter, alarm dan notifikasi petugas – petugas desa, anggota TNI, dan Polri, akan berbunyi.
“Seluruh desa yang sudah membentuk Kampung Tangguh di Bondowoso, akan menginstal aplikasi ini,” ucap Erick.

Fitur lain dalam aplikasi ini di antaranya, QR Code, check up online, info warga, konsultasi, ijin keluar desa, fitur informasi, layanan darurat, serta call center.

“Saya sangat terbantu dan merasa nyaman dengan kehadiran aplikasi ini. Tidak aka nada lagi kabar burung, atau hoax. Kami mudah mengantisipasi semua kemungkinan terkait Covid – 19,” tutur salah seorang warga, Faqih yang dihubungi lewat telepon genggam.

Kata Erick, akhir Juni ini, sudah 45 Kampung Tangguh terbentuk. Hasil sementara saat ini, “Bondowoso tidak lagi menjadi zona merah Covid-19, tetapi sudah berubah menjadi zona kuning,” ujarnya.

Kampung Tangguh pertama di Bondowoso diluncurkan di Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Bondowoso.

Erick dan jajarannya bersama jajaran Kodim, dan Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Bondowoso saat ini merujuk Desa Cindogo di Kecamatan Tapen, dan Desa Mengen di Kecamatan Tamanan, menjadi model Kampung Tangguh di seluruh Kabupaten Bondowoso.

“Paduan keunggulan di kedua tempat ini kami buat sebagai model Kampung Tangguh di seluruh Bondowoso dimana setiap kelurahan atau desa di Bondowoso mampu berswasembada, dan memiliki data lengkap dengan memanfaatkan sistem digital,” tutur Erick.

Desa Cindogo dikenal sebagai desa yang mampu berswasembada ekonomi. Warga memenuhi kebutuhan hidup seharihari dengan bersawah, berladang, menanam sayur, buah, cabai, memelihara ikan dan ternak lain, serta memiliki sejumlah toko kebutuhan seharihari yang mampu mencukupi kebutuhan seharihari warga Cindogo.

Kondisi ini membuat warga bertahan hidup saat ada kebijakan lock down. “Kontrol keluar masuk warga dari luar pun menjadi lebih mudah dilakukan,” ucap Erick.

Di desa ini, tugas Pemkab tinggal melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi swasembada pangan.

“Sedang tugas kami (Polri dan TNI) bersama Pemkab mendampingi mereka membangun sistem pencegahan penularan Covid-19 berbasis tatanan masyarakat yang lebih tertib, teratur, dan bersih,” ujar Erick.

Desa Mengen, lanjutnya, dikenal sebagai desa digital yang mampu menyediakan data lengkap mengenai kondisi terakhir desa tersebut. “Tugas kami mendampingi mereka membangun sistem Kampung Tangguh, memang lebih banyak, tetapi dengan fasilitas digital mereka, pekerjaan menjadi lebih ringan,” tutur Erick.

Ia dan jajarannya berniat menghubungkan desa digital ini dengan satu aplikasi yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh desa di Bondowoso. “Dari soal data bantuan sosial yang diterima berapa, disalurkan kemana, buat siapa saja, sampai soal sirkulasi usaha swasembada, ada diaplikasi tersebut,” papar Erick.

Berbeda dengan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Ganis Setyaningrum. Untuk membantu meringankan pedagang kecil yang terhimpit pasar yang sepi,
setiap turun ke lapangan, sejak berangkat dari kantor Polres, Ganis tak lupa mengimbau anggotanya, begini:

“Bekerja sambil berbelanja. Berbelanja sambil membantu warga”

Seperti hari itu, Minggu Minggu (28/6), pukul 08.15. Suasana hiruk pikuk di Jalan Nyamplungan, tepatnya di Pasar Pegirian, Surabaya, Jawa Timur, mulai terasa.

Satu per satu pedagang mulai membereskan lapak dagangannya. Sebab, 15 menit lagi, arus lalu-lintas jalan tersebut bakal kembali normal.

Pukul 08.30 kendaraan bermotor kembali diperbolehkan melintas Jalan Nyamplungan. Para pedagang yang ingin melanjutkan usahanya diminta pindah ke dalam Pasar Pegirian.

Tapi pedagang ikan asap, Rosidah, tak ingin pindah sampai pukul 09.00. Ia meminta petugas memberi perpanjangan waktu agar dagangannya habis terjual.

“Biasanya 30 ikan asap tongkol sebelum jam delapan pagi sudah habis. Tapi sudah seminggu terakhir ini sepi pembeli.” kata ibu tiga anak itu.

Satu kilogram ikan asap tongkol dijual Rp 20 ribu perkilogram. Namun, mendekati pasar tutup, jualannya dibandrol Rp 13 ribu, hingga Rp 15 ribu, perkilogramnya. Yang penting dagangan habis terjual.

Ganis bersama beberapa anggotanya sedang membagi 1.150 masker. “Masker kami bagikan ke pasar-pasar tradisional dan pengendara di jalan-jalan protokol. Sekitar sepuluh ribu masker kami siapkan,” kata Ganis.

Ia mendengar keluhan Rosidah. Ganis lalu meminta beberapa Polwan yang ikut, membeli habis dagangan Rosidah.

Mereka bukan hanya memborong dagangan Rosidah, tetapi juga dagangan para pedagang lain. Ikan segar, daging ayam, sayur mayur, dan bumbu dapur. Rosidah pun senang.

Tirai plastik

Di Surabaya, Kampung Tangguh berkembang menjadi Pasar Tangguh di beberapa pasar tradisional di Surabaya. Satgas Pasar Tangguh, aktif melibatkan seluruh pedagang.

”Ayo bu maskernya dipakai. Jaga jarak, ojo pada ngumpul rek,” teriak Kasubsi Keuangan Pasar Tambahrejo, Susilowati di Pasar Tambahrejo, Simokerto, Surabaya, Jum’at (25/6) pagi.

Perempuan berusia 40 tahun itu bergegas menelusuri satu per satu area pasar. Dari blok konveksi sampai pasar basah yang menjual sayur mayur, daging, dan ikan segar.

Menurut dia, Pasar Tangguh di Pasar Tambahrejo sudah berlangsung hampir sepekan belakangan.

”Kalau saya melihat ada pedagang yang belum memakai masker, saya akan tunggu mereka sampai mereka mengenakan masker,” tegas Susilowati.

Setiap hari, ia bersama Jadwiga Junartin, Kepala Pasar Tambahrejo yang juga Kasatgas Pasar Tangguh, ia memeriksa rutin pelaksanaan protokol kesehatan.

Saat ini, lanjut Jadwiga, anggota Satgas berjumlah 33 personil inti.

“Sudah 85 persen pedagang di sini tertib melaksanan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, melintas bilik steril, dan menjaga jarak,” ucap Jadwiga.

Beberapa sarana kesehatan pun disiapkan. Selain membuat beberapa tempat cuci tangan, dibuat pula bilik sterilisasi, dan pemeriksaan suhu badan.

Bilik sterilisasi di Pasar Tambakrejo dilengkapi uap disinfektan. Pemeriksaan suhu badan menggunakan thermo gun otomatis. Cukup dengan mengarahkan telapak tangan pada jarak sekitar 10 sentimeter di depan alat sensor.

”Jumlah bilik sterilisasi ada sembilan. Dua bilik sterilisasi uap plus thermo gun, dan enam bilik lainnya tanpa thermo gun. Satu bilik sisanya menggunakan semprotan cairan disinfektan,” jelas Jadwiga.

Bilik sterilisasi uap dan thermo gun diletakan di pintu utama pasar basah dan area konveksi. Kedua pintu utama tersebut paling banyak dilewati pedagang dan pengunjung pasar.

Sebanyak 16 wastafel ditempatkan di beberapa lokasi pasar. Lima di antara perangkat ini menggunakan sistem injak sehingga tidak terjadi kontak fisik. “Kami mendapat semua fasilitas ini dari Polda Jatim, dan PD Pasar Surya,” jelas Jadwiga.

Untuk mengurangi kerumunan orang, lalulintas pedagang dan pengunjung pasar pun diubah. Masuk dari sisi barat, keluar dari sisi timur. Garis pembagi arus jalan di lintasan los, dan gerai dibuat. “Kami juga membuat garis batas merah sebagai larangan pedagang meletakkan barangbarangnya di jalan lintasan los, dan gerai,” ucap Jadwiga.

Los los penjual daging dan ikan segar, dipasangi tirai plastik. “Pemasangan dilakukan untuk menghindari penularan Covid-19 lewat air liur,” ujar Jadwiga. “Tidak boleh ada genangan air di sana. Air harus mengalir ke tempat pembuangan,” lanjutnya.

Jadwiga memaparkan, setelah dibentuk Satgas Pasar Tangguh yang melibatkan seluruh pedagang pasar, pelaksanaan sistem pengawasan protokol kesehatan menjadi lebih ketat.

Sebelumnya, pengawasan hanya dilakukan oleh petugas keamanan dan pengelola pasar. Jumlah mereka untuk mengawasi tentu saja kurang.

Pembentukan Satgas ini akhirnya membawa Pasar Tambahrejo menjadi pasar percontohan Pasar Tangguh di Surabaya. Jumiran, salah seorang pedagang pakaian, mengaku tidak keberatan dilibatkan menjadi anggota Satgas Pasar Tangguh.

“Jalan lintasan los dan gerai menjadi lega karena tidak ada lagi pedagang yang meletakkan barang di jalan lintasan. Keadaan pasar menjadi lebih tertib, dan rapi,” kata pria berusia 49 tahun itu.

Ia berharap, kondisi ini tetap dipertahankan setelah endemik Covid-19 berakhir. “Nyatanya, setelah pasar menjadi lebih tertib dan rapi, jumlah pembeli makin banyak,” ujar Jumiran.

Direktur Teknik dan Usaha PD Pasar Surya, Muhibuddin menjelaskan, pasar percontohan bukan hanya Pasar Tambahrejo, tetapi juga Pasar Genteng Baru.
“Saat ini kami sedang mengembangkan Pasar Tangguh di Pasar Pabean dan Pasar Pegirian,” tuturnya. Saat ini PD Pasar Surya mengelola 67 pasar.

Ia berpendapat, ketentuan jaga jarak (physical distancing) di Pasar Pabean maupun Pasar Pegirian sulit diterapkan karena sempitnya area, sementara di sisi lain, pasar padat pedagang. Untuk mengurangi kerumunan, Muhibuddin mengatur jadwal pedagang.

Pedagang kebutuhan pokok dan bumbu dapur di Pasar Pabean berjualan pukul 04.00 sampai pukul 16.00, sedang pedagang ikan segar berjualan pukul 12.00 sampai pukul 24.00.

Di Pasar Pegirian, 74 pedagang di pasar dipindahkan berjualan di Jalan Nyamplungan pada pukul 05.00 sampai pukul 08.00.

Setelah lewat jam tersebut, mereka bisa kembali berjualan di dalam pasar. Muhibuddin menambahkan, ia akan menerapkan pemasangan tirai plastik pembatas pedagang dan pembeli di 38 pasar lainnya. “Secepatnya,” ucapnya.

Kentongan dan disiplin

Merujuk sejarah, munculnya Desa Tangguh bersumber dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Intinya, anjuran melibatkan masyarakat dalam menanggulangi bencana.

Jiwa UU tersebut terinspirasi dari budaya kentongan sebagai sistem peringatan dini. Tidak ada catatan sejarah valid mengenai sejak kapan dan bagaimana bentuk tradisi kentongan. Tetapi bahwa ini budaya asli Indonesia sejak ratusan tahun lalu, tak bisa diingkari.

Kentongan terbuat dari kayu berongga, atau batang bambu yang dilubangi. Alat ini dibunyikan dengan cara dipukul. Meski ukurannyaa bermacam macam, panjang kentongan umumnya, 50 sentimeter, dengan diameter 20 sentimeter.

Sebagai penanda ada bencana, tempo bunyi kentongan dibuat berbeda saat dipukul. Dipukul sambung menyambung dari warga satu ke warga lainnya. Cara kerjanya mirip morse yang bisa dibaca lewat isyarat gerakan bendera, bunyi peluit, atau kepulan asap seperti pada tradisi orangorang Indian.

Warga Jatim dan Jawa Tengah menyebutnya, kentongan, sedang warga Jawa Barat menyebutnya, kohkal. Warga Madura menyebutnya, gul-gul, sedang warga Bali menyebutnya, kulkul.

Buku karya Mills, J. V. G. Ying-yai Sheng-lan, The Overall Survey of the Ocean’s Shores (1433) menyebutkan, saat Armada Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok ke Tanah Jawa, tahun 1407, tradisi kentongan sudah ada. Karena tertarik, Cheng Ho kemudian membawa dan memerkenalkan tradisi kentongan ke Jepang.

Dalam Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjaraningkrat menyebut kentongan sebagai salah satu alat pengendali sosial. Di Jogjakarta bentuk pukulan kentongan dibakukan melalui Instruksi Gubernur/Kepala Daerah DIY nomor: 5/INST/1980.

Fadil mengakui, gagasan Kampung Tangguh mengadopsi gagasan lama Desa Tangguh. Ia hanya membangunkan kembali Desa Tangguh yang sudah delapan tahun “tertidur”.

“Desa Tangguh bisa jadi bagian pemolisian berbasis penyelesaian masalah,” kata Fadil. Metoda ini melibatkan warga sebagai mitra polisi untuk menanggulangi kejahatan, (dan bencana). Pencetusnya, Prof Herman Goldstein (1931 – 2020), seorang kriminolog dari Perguruan Tinggi Hukum Wisconsin, AS.

Tahun 1987, model Goldstein diperluas John E Eck dan William Spelman menjadi model pemecahan masalah. Strategi ini menekankan penelitian dan analisis. Sistem pencegahan kejahatan melibatkan organisasi publik dan swasta.

Sejak awal pembentukan Kampung Tangguh, Fadil sudah mengingatkan, “anti virus” Covid-19 adalah sikap disiplin warga mematuhi protokol kesehatan untuk memutus mata rantai pandemik Covid-19.

“Kita dipaksa secara bersamasama menumbuhkan sikap dan berfikir disiplin. Disiplin menjadi vaksin paling ampuh menanggulangi bencana apapun,” ujarnya, Sabtu (16/5/2020). (*)

Recent posts