Home Restorative Policing Teori Jendela Pecah di Pandemi Covid-19

Teori Jendela Pecah di Pandemi Covid-19

Author

Date

Category

POLRI membubarkan 10.873 titik kerumunan se Indonesia. Sejak 19 Maret 2020 sampai 5 April 2020. Demi meminimalisir penyebaran Covid-19.

Sebagai tindak lanjut Maklumat Kapolri, Jenderal Idham Azis nomor Mak/2/III/2020 tertanggal 19 Maret 2020.

Itu dikatakan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Argo Yuwono kepada pers di Jakarta, Senin 6/4/2020). (Media Indonesia online Senin, 6 April 2020)

Katakan, rata-rata satu titik kerumunan 100 orang. Maka, sudah jutaan orang berkerumun dibubarkan polisi. Dihindarkan dari potensi tertular Covid-19.

Lebih spesifik, di Mojokerto, Jawa Timur, aparat Polsek Mojosari membubarkan ratusan orang pelamar kerja di sebuah minimarket di Jalan Pemuda, Selasa siang, 31 Maret 2020.

Pengelola minimarket dipanggil pihak Polres Mojokerto. Dia di-brifing Kapolres Mojokerto, AKBP Feby Dapot Parlindungan Hutagalung.

“Jika diulangi, mengumpulkan orang, kami akan tindak tegas sesuai UU Karantina. Ancaman pidana satu tahun penjara,” kata AKBP Feby. (Detikcom, Selasa, 31 Mar 2020)

Mabes Polri menegaskan, komitmen penegakan hukum merupakan upaya terakhir. Polri mengutamakan upaya preemtif dan preventif. Mengimbau, mencegah. Kalau bisa diimbau, kalau tidak bisa, baru kemudian dicegah.

“Apabila kedua upaya ini tidak efektif, maka penegakan hukum pilihan terakhir. Demi menjamin kepastian kepada para pelaku kejahatan tersebut,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Asep Adi Saputra, Kamis, 9 April 2020). (humas.polri.go.id, 9 April 2020).

TEORI JENDELA PECAH

Dalam sejarah Indonesia merdeka, itulah satu-satunya tugas nasional polisi membubarkan kerumunan. Situasi-kondisi memang spesial. Belum pernah terjadi.

Pandemi Covid-19 mengubah kehidupan bermasyarakat. Pemerintah mengimbau, jika tidak sangat penting, jangan keluar rumah. Dalam kurun waktu bisa berbulan-bulan.

Efeknya, tentu juga spesial. Industri – perdagangan lesu.

Pabrik-pabrik yang semula produksinya kurang laku, kemudian tutup.
Pabrik-pabrik yang semula produknya laku sedang-sedang saja, berubah jadi tidak laku. Pabrik-pabrik yang semula produknya laku keras, jadi kurang laku.

Jumlah pengangguran naik tajam. Banyak orang kelaparan. Dampak akhirnya, volume kejahatan meningkat drastis. Terutama kejahatan jalanan (yang sepi).

Maka, kerumunan orang di suatu titik, berakibat dua:

  1. Berpotensi menularkan Covid-19
  2. Dimanfaatkan penjahat. Termasuk menghasut massa dengan aneka tujuan.

Sehingga ‘penegakan hukum’, meskipun upaya terakhir, jadi poin penting bagi polisi. Dalam memberikan keamanan dan rasa aman kepada masyarakat.

Adalah ilmuwan sosial, James Q. Wilson dan George L. Kelling, mengemukakan teori kriminologi tentang ketidak-teraturan dan vandalisme.

Intinya: Apabila kejahatan atau ketidakteraturan kecil dibiarkan, tanpa ditindaklanjuti, maka akan lebih banyak orang melakukan hal yang sama.

Bahkan menyebabkan terjadinya kejahatan dalam skala yang lebih besar (Broken Windows Crime Theory, Scientific American, 2012)

Mereka menyebutnya Teori Jendela Pecah.

Wilson dan Kelling merumuskan teori ini setelah mencermati percobaan yang dilakukan Philip Zimbardo pada 1969 (Broken Windows, Cross Talk Online, 2012).

Philip Zimbardo melakukan percobaan untuk menguji sifat alami manusia.

Dia meletakkan dua mobil yang sama persis, pada dua tempat berbeda.

Dua mobil itu sama-sama: Tanpa nomor polisi, dan kap mesin depan dibuka.

Satu mobil diparkir di pinggir jalan daerah kumuh, Bronx, New York, Amerika.

Satunya di pinggir jalan Palo Alto, California, Amerika. Palo Alto adalah jantung kota Silicon Valley, markasnya Google, Facebook, Intel, AMD, Nvidia. Wilayah masyarakat kelas menengah.

Hasilnya:

Selang 3 hari, mobil di Bronx ‘bersih’.

Mobilnya masih ada. Tapi banyak komponen yang hilang. Hingga ‘bersih’ tanpa spion, kaca-kaca, bahkan komponen mesin pun hilang.

Mobil di Palo Alto utuh. Tidak ada bagian yang hilang. Bahkan, dibiarkan sampai sepekan kemudian, tetap saja utuh.

Philip Zimbardo lantas melakukan ini pada setiap mobil: Memukuli mobil dengan palu. Berkali-kali.

Atraksi itu ditonton banyak orang yang lewat. Kemudian, Philip Zimbardo pergi begitu saja.

Apa hasilnya?

Baik di Bronx atau Palo Alto, sama: Orang-orang yang lewat, satu per satu, memukuli mobil itu.

Orang-orang yang lewat, melihat orang-orang memukuli mobil. Mereka ikut-ikutan. Akhirnya mobil hancur total.

Kesimpulan penelitian:

  1. Mobil, tanpa perlakuan khusus, hasilnya berbeda. Antara di daerah kumuh dengan daerah masyarakat kelas menengah.
  2. Mobil, dengan perlakuan khusus, hasilnya sama.
  3. Masyarakat kumuh dan masyarakat kelas menengah, sama. Dalam menirukan perilaku vandalime, jika ada contoh kasusnya.

George L. Kelling dan James Q. Wilson sepakat, mendasari penelitian tersebut sebagai dasar teori kriminologi Jendela Pecah (Broken Windows Crime Theory, Scientific American, 2012).

Nama “Jendela Pecah” diilhami pengalaman masa remaja James Q. Wilson. Dia bersama keluarganya mukim di suatu komplek perumahan.

Suatu hari, ada rumah tetangga Wilson dilempari sesuatu benda oleh anak remaja iseng. Kena jendela kaca dan pecah. Penghuni rumah keluar. Si pelempar sudah kabur, melarikan diri.

Si penghuni rumah hanya tersenyum. Lalu kembali masuk rumah.

Beberara hari kemudian, di rumah itu lagi, pada jendela kaca yang lain, dilempari sesuatu benda oleh anak remaja. Kaca jendela pecah lagi. Pelemparnya kabur lagi.

Penghuni rumah keluar, melihat dua jendela kaca rumahnya pecah. Dia hanya geleng-geleng kepala. Lantas masuk rumah.

Beberapa hari kemudian terjadi lagi, dan lagi. Bahkan, peristiwa serupa menimpa jendela kaca rumah di sebelahnya.

Setelah banyak kejadian serupa, maka para penghuni komplek perumahan itu jadi kompak bersatu. Mereka mengintai pelaku. Akhirnya pelaku tertangkap. Ada beberapa. Kemudian diserahkan ke polisi.

James Q. Wilson berasumsi, pelemparan pertama-kedua dibiarkan, mengakibatkan pelemparan-pelemparan berikutnya. Berkembang, menimpa banyak rumah. Bisa-bisa, si pelempar masuk rumah dan menjarah.

Kejadian itu dianggap mirip dengan penelitian Philip Zimbardo tentang dua mobil, bertahun-tahun kemudian. Teori Jendela Pecah (Broken Windows Crime Theory, Scientific American, 2012).

Teori ini diterapkan di New York pada pertengahan 1980-an oleh George L. Kelling.

Waktu itu Kelling ditunjuk menjadi konsultan untuk Otoritas Transit New York (Gladwell, Malcolm, The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference, 2002).

Malcolm Gladwell adalah jurnalis The New Yorker, Amerika, penulis naskah tentang penerapan teori Jendela Pecah oleh George L. Kelling di New York pada tahun tersebut.

Di era itu data statistik kejahatan di New York 650.000 kasus per tahun. Untuk ukuran sana, waktu itu, dinilai sangat tinggi. Rata-rata 1.836 kasus kriminal per hari. Hujan kasus.

Ribuan kasus kriminal itu beraneka ragam. Dari yang ringan sampai berat.

Paling ringan, graffiti. Corat-coret dengan cat di berbagai bidang terbuka. Termasuk di kereta subway. Baik di interior kereta maupun eksterior. Juga dinding sekitar stasiun. Sungguh parah.

George L. Kelling sewaktu jadi konsultan Otoritas Transit New York, kaget mengamati parahnya graffiti.

Parahnya graffiti, pasti bukan tiba-tiba. Awalnya satu-dua coretan cat, dibiarkan. Lama-lama orang meniru (Teori Jendela Pecah). Akhirnya jadi parah.

Lantas, George L. Kelling mengajak Direktur Subway, David Gunn, menerapkan kebijakan baru.

Semua graffiti dihapus. Yang menempel dinding, dindingnya dicat ulang. Yang nempel pada kaca, kacanya diganti. Dilakukan gerakan serentak, melibatkan banyak personil.

Pada hari-hari gerakan serentak itu, ternyata masih saja ada graffiti baru. Graffiti yang baru dibuat oleh anak-anak remaja.

Kelling dan Gunn tidak mau kalah. Graffiti baru yang dibuat hari itu, dihapus langsung pada malam harinya. Sehingga esok pagi, kereta dan dinding stasiun selalu bersih dari graffiti.

Dan, pelaku graffiti yang ketahuan, tertangkap tangan, langsung diserahkan ke polisi. Diproses hukum.

Alhasil, kereta dan stasiun subway New York selalu bersih. Sampai sekarang.

Penerapan teori Jendela Pecah ini ternyata dilanjutkan oleh William Bratton, yang jadi Kepala Polisi Transit New York pada 1990 (Gladwell, Malcolm, The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference, 2002).

Kasus yang diamati William Bratton adalah hal berbeda: Penumpang subway tanpa bayar. Anak-anak muda melompati palang pembatas di pintu (gate) masuk. Lantas lari masuk kereta.

Berdasarkan data saat itu (1990) jumlah pelompat palang gate 170.000 orang per hari. Mereka penumpang gratis illegal.

Begitu banyak jumlahnya, dan diketahui oleh polisi yang berjaga di sana. Tapi, mereka enggan menegur. Itu dianggap sepele. Sebab, polisi New York sudah dihujani ribuan kasus kriminal per hari.

William Bratton tidak mau melihat orang pelompat palang. Dia kerahkan anak buahnya menangkapi para pelompat. Karena jumlah pelompat ribuan orang, dia minta bantuan polisi sektor lain. Pelompat yang tertangkap didenda sangat tinggi, sesuai aturan.

Dampaknya, tidak ada lagi pelompat palang gate.

Empat tahun kemudian, William Bratton diangkat menjadi Kepada Departemen Kepolisian New York. Dia menerapkan sistem yang sama untuk banyak kasus kriminal.

Sejak pertengahan dekade 1990-an, angka kejahatan di New York turun drastis. Itu berkat teori Jendela Pecah yang dimulai George L. Kelling (Gladwell, Malcolm, The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference, 2002).

POTENSI KASUS KRIMINAL terkait PANDEMI COVID-19

Semua anak bangsa Indonesia, terutama polisi, berdoa, semoga tidak terjadi dampak buruk akibat krisis yang disebabkan pandemi Covid-19.

Belum ada contoh kasus tentang hal ini. Kita semua, bahkan warga dunia, belum berpengalaman. Sehingga belum ada teorinya.

Juga, belum bisa disimpulkan akurat, perubahan sosial seperti apa yang bakal terjadi.

Tapi, Polri tidak akan tinggal diam. Dipastikan, Polri selalu menganalisis semua bentuk perubahan di masyarakat. Memprediksi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bakal terjadi. Demi menjamin keamanan dan rasa aman masyarakat.

Bahwa pandemi Covid-19 mengakibatkan merosotnya ekonomi negara dan warga bangsa, sudah kelihatan jelas.

Negara men-subsidi banyak rumah sakit rujukan pasien Covid-19. Memberikan bantuan APD (Alat Pelindung Diri) ke berbagai lembaga kesehatan. Memberikan bantuan kepada warga miskin yang jadi semakin miskin.

Bahwa pandemi Covid-19 mengakibatkan merosotnya ekonomi individu warga masyarakat, juga pasti.

Orang yang sehari-hari bekerja mencari nafkah, mendadak harus selalu di rumah dalam tempo lama. Para bos perusahaan yang merasa profitnya menurun akibat karyawan tidak datang ke tempat kerja, melakukan rasionalisasi. Gaji karyawan dipotong. Bahkan PHK.

Sebab, tidak semua pekerjaan bisa dilakukan WFH (Work from Home) seperti instruksi pemerintah. Bahkan, sangat sedikit pekerjaan yang bisa dilakukan from home.

Kemerosotan ekonomi masyarakat secara mendadak dan drastis, meningkatkan kuantitas kriminalitas. Ini keniscayaan. Tidak perlu teori lagi.

Teori Jendela Pecah hanya ideal diterapkan oleh pengendali ketertiban umum dalam kondisi masyarakat normal. Bukan akibat suatu bencana. Yang berdampak ekstrem dan perubahan dalam tempo singkat.

Maka, polisi berusaha melibatkan masyarakat dalam membantu menjaga keamanan dan ketertiban bersama.

Dalam kondisi tidak normal ini, polisi perlu dibantu masyarakat. Mengamankan kondisi yang ada. Tapi, bukan berarti masyarakat umum jadi polisi. Bukan begitu. Polisi tetap pengendali keamanan masyarakat. Sedangkan, masyarakat berpartisipasi.

Berkaca pada teori Jendela Pecah, marilah kita bersama-sama menjaga lingkungan kita.

Jangan abaikan kejahatan-kejahatan yang dianggap sepele. Pelanggaran-pelanggaran norma yang diperkirakan remeh-temeh. Jangan diabaikan.

Jika di lingkungan kita ada kejahatan-kejahatan (yang diperkirakan sepele) segera laporkan ke polisi.

Paling tidak, Anda jangan jadi pelempar kaca jendela yang pertama. Atau, jangan jadi peniru pelempar jendela. (*)

Recent posts